Sunday, February 15, 2015

Pergimu tinggalkan kami khazanah berharga


TAHUN KESEDIHAN UMAT...

Tahun ini ialah Tahun kesedihan buat Umat..Di mana Tahun ini (tahun hijriah) tahun paling ramai sekali Alim Ulama telah pergi tinggalkan Dunia ini kembali kepada ALLAH buat selama-lamanya...
Bermula dengan Syeikh Ramadhan Buty, Ulama Besar Dunia...kemudian di turuti dgn Tuan Guru Ustaz Harun Taib, ketua Ulama Pas...kemudian di turuti dgn Syeikh Habib Munzir Al-Musawa...kemudian Syeikh Muhammad Al-ansori (syura Dakwah Madinah)...kemudian Syeikhul Hadith Maulana Abd Qader(Amer Dakwah Bumi Hijaz)..kemudian Syeikhul Hadith Maulana Zubair ul Hasan (Syura Dakwah Dunia)..kemudian di ikuti dgn Syeikhul Hadith Kiyai Uzairon Thaifur Abdillah (Ulama Besar Indonesia)...kemudian Tuan Guru Pak Su Mid Gunong, Tuan Guru yg sgt Alim di Kelantan..kemudian di ikuti dgn Tuan Guru Hasan Syazili Bin Kiayi Hj Suhod Sabak Bernam..dan Ramai lagi Alim Ulama yg telah pergi meninggalkan kita semua buat selama-lamanya pada tahun ini...
Minggu ini Dunia Dakwah di kejutkan dgn pemergian Syeikhul Hadith Hazrat Maulana Jamshed Ali kepangkuan ILahi buat selama-lamanya...Syeikh merupakan Syura Dakwah Bumi Pakistan dan Ulama Besar di Pakistan...dari Syeikh telah lahir puluhan ribu anak2 Muridnya yg kini menjadi Ulama di tanah air masing2 termasuk di Malaysia yg kini kesemuanya telah buka madrasah di Negara masing2..
Seorang demi seorang Ulama telah pergi tinggalkan kita...kehilangan mereka amat di rasai...berkurangnya Ulama berkurangnya orang Soleh di Bumi ini...Bumi sepi dari kekasih ALLAH..orang yg mewarisi ilmu kenabian dan penyambung risalah Nabi Saw semakin berkurang...cara ALLAH mengangkat ilmu dari dunia ini ialah dgn mematikan alim Ulama..maka Umat hari ini kita lihat hidup dalam keadaan jauh dari Agama dan teraba-raba dalam kegelapan Dunia yg menipu..Lahir ahli dunia yg sewenang-wenangnya menafsirkan ayat2 ALLAH dan Hadis2 Nabi Saw mgikut Nafsu dan keinginan mereka..sehingga memegang anjing di khalayak pun mnjadi kebanggaan..Lahir org2 Jahil yg mendabik dada sebagai Ulama..memahami Agama ikut akal dan ikut rasa suka..sehingga kita lihat wu
jud golongan yg mengkritik dan memandang rendah Ulama zaman silam..perpecahan berlaku di sana sini..tidak wujud lg kehidupan berkasih sayang sesama umat..Masjid2 pula kosong dan sepi terkadangkala sedihnya kekosongan masjid di sebabkan perebutan jawatan di masjid...
Dunia seolah telah hampir sampai ke penghujungnya...Islam Di ibaratkan seperti Sebuah Bangunan..dan alim Ulama di umpamakan seperti batu bata yg di guna untuk membentuk bangunan itu..wafatnya seorang Ulama maka Bangunan Islam telah retak...yg tidak akan bisa di ganti dan di tampal sampai hari kiamat...
Akhir-akhir ini kita melihat seorang demi seorang Ulama meninggal dunia yg mana bangunan Islam sedang retak dan retak..dan terus retak...ini petanda Dunia seakan hampir dgn pghujungnya..tidak ada lagi hingga ke hari ni kita mampu menggantikan tempat Ulama2 empat mazhab..tempat Imam2 Hadis...inilah buktinya keretakan td tak kan bisa di tampal dan di ganti sampai hari kiamat..
Semoga ALLAH memelihara iman kita dan istiqomahkan kita atas Jalan Nabi saw dan matikan kita di JalanNya dan bangkitkan kita bersama Nabi Saw kekasihNya dan para Sahabat Baginda...nk
ALLAHUMMA amin..

us Khann Da'ie
Madinah Munawwarah
Bandar Nabi SAW

Saturday, February 14, 2015

Kehilangan Tuan Guru

Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbb:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات
”Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik”

Menagislah karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .
Dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama. Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far ra berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al-Quran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya).Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 4/472)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’)

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
Artinya: “Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani No 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih.

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu b hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak m
enyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR al-Bukhari No 100)

Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib:
إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه
Artinya: “Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya” (Ihya Ulumiddin I/15). Wallahu a’lam bis-Shawab

(KH. Ibnu Mas’ud /SM)

AL-FATIHAH BUAT MU TUAN GURU

Hadis Akhir Zaman 4 - matinya Ulama'
ILMU AGAMA AKAN BERANSUR-ANSUR HILANG

Ertinya:
Daripada Abdullah bin Amr bin 'ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Bahawasanya Allah swt. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia.

Tetapi Allah swt. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama.

Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, Orang ramai akan memilih Orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan Orang lain."
H.R. Muslim

Keterangan
Sekarang ini alim-ulama sudah berkurangan. Satu demi satu pergi meninggalkan kita. Kalau peribahasa Melayu mengatakan, "patah tumbuh, hilang berganti", peribahasa ini tidak tepat herlaku kepada alim ulama. Mereka patah payah tumbuh dan hilang payah berganti. Sampailah suatu saat nanti permukaan bumi ini akan kOsOng dari Ulama. Maka pada masa itu sudah tidak bererti lagi kehidupan di dunia ini. Alam penuh dengan kesesatan. Manusia telah kehilangan nilai dan pegangan hidup. Sebenarnya, alim ulamalah yang memberikan makna dan erti pada kehidupan manusia di permukaan bumi ini. Maka apabila telah pupus alim ulama, hilanglah segala sesuatu yang bernilai.

Di ahir-akhir ini kita telah melihat gejala-gejala yang menunjukkan hampirnya zaman yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. tadi. Di mana bilangan alim ulama hanya tinggal sedikit dan usaha untuk melahirkannya pula tidak mendapat perhatian yang sewajarnya. POndOk-pOndOk dan sekOlah-sekOlah agama kurang mendapat perhatian daripada cerdik pandai. Mereka banyak mengutamakan pengajian-pengajian di bidang urusan keduniaan yang dapat meraih keuntungan harta benda dunia. Ini lah realiti masyarakat kita di hari ini. Oleh itu, perlulah kita memikirkan hal ini dan mencari jalan untuk menyelesaikannya.

Catatan Pertama Penuh Hiba 2015

Baru berkesempatan menulis di blog usang ini. Peristiwa paling sedih dalam hidup ini terpaksa menjadi permulaan tulisan saya. Cukup terkesan dengan kehilangan mu wahai murrabi. Catatan ini untuk saya tunjukkan buat permata-permata hati saya. Biar mereka kebali umminya amat kagum dengan tokoh ulama ini. Anakku...umi ingin kalian kenali dan kagumi susuk tubuh murrabi ini. Bacalah dan renungi perjalanan hidup murrabbi ini.

Biodata YAB Dato’ Bentara Setia Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat

Nama : Nik Abdul Aziz bin Nik Mat
Tarikh Lahir: 1931
Tempat lahir : Kampung Pulau Melaka,Kelantan.

Pengajian :
1-Pondok Tuan Guru Hj Abbas, Besut
2-Universiti Deoband India
3-Universiti Lahore Pakistan
4-Universiti Al Azhar
5-Sarjana Muda bahasa Arab
6-Sarjana Perundangan Islam

Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz Nik Mat dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat kuat berpegang kepada ajaran Islam di Kampung Pulau Melaka, Kota Bharu, Kelantan pada tahun 1931.

Bapanya, Haji Nik Mat bin Raja Banjar bin Raja Abdullah bin Raja Mamat merupakan keturunan Raja Jembal. Bapanya lebih dikenali dengan panggilan Tuan Guru Nik Mat Alim disebabkan beliau arif dalam ilmu-ilmu agama. Beliau terkenal di Kelantan dalam mengendalikan institusi pengajian pondok di Kampung Kedai Lalat.

Di situlah Nik Abdul Aziz mendapat pendidikan awal bersama ratusan pelajar Islam dari segenap ceruk rantau Asia Tenggara. Sejak kecil beliau mempelajari dan mendalami kitab-kitab agama yang muktabar dari Almarhum ayahandanya serta belajar menulis daripada ibunya Hajah Aminah Majid.

Sewaktu usia 9 tahun, Nik Abdul Aziz dihantar berguru dengan Tuan Guru Haji Abas Mohamad di pondok Madrasah Ittifaqiyah, Jertih, Besut, Terengganu. Tuan Guru menuntut ilmu di situ selama setahun sehingga peperangan Jepun berlaku dan pengajian dihentikan buat seketika.

Pada masa ini juga, Tuan Guru berulang alik ke Kampung Sirih, berguru dengan Tok Khurasan dan belajar dengan Tuan Guru Ali Pulau Pisang dalam mata pelajaran Nahu dan Tuan Guru Dato’ Muhamad Nur Ibrahim (bekas Mufti Kelantan) dalam pelajaran Fekah. Setelah perang tamat Tuan Guru menyambung kembali pelajaran secara formal di Ittifaqiyah.

Walaupun usia Tuan Guru masih muda tetapi beliau dapat menguasai kitab Asmuni (sebuah kitab nahu yang agak tinggi) setanding dengan murid-murid yang lebih tua.

Pada tahun 1945 beliau menyambung pelajaran di Jamek Merbawi Al-Ismaili, Kota Bharu hingga 1952. Beliau menyambung pelajaran ke Universiti Darul Ulum di Deoban, India, mendalami ilmu Fekah, Usul Fekah, Tafsir al-Qur’an, Hadis dan lain-lain.

Ketika di India beliau juga telah berguru dengan Sheik al-Hadith dan guru Tarikat yang terkemuka di India iaitu Maulana Mohamad Ahmad Al-Madani dengan mendapat ijazah. Maulana Mohamad seorang pejuang kemerdekaan India yang pertama dan pernah di penjara semasa penjajahan Inggeris.

Pada 1957 beliau menyambung pelajaran ke Pakistan dalam bidang Tafsir. Pada 1958 menyambung pelajaran di Kuliyatul Lughah di Al-Azhar, Mesir dan memperolehi ijazah sarjana muda dalam jurusan pengajian bahasa Arab kemudian menyambung pelajaran sehingga mendapat ijazah sarjana (M.A) dalam jurusan kehakiman dan perundangan Islam selama 2 tahun. Kemudian beliau mendapat diploma pendidikan di Darul Azhar dan pulang ke tanahair Februari 1962.

Perkhidmatan :

Pada 1962 beliau membuka sekolah dengan menggunakan tanah wakaf yang diberi oleh ibu saudara Hajah Kalthom iaitu Sekolah Menengah Ugama Darul Ulum, Pulau Melaka di sebelah petang dan sebelah pagi beliau berkhidmat di Sekolah Menengah Agama Tarbiatul Mardhiyah, Panchor, Kemumin. Pada sebelah malam beliau menjadi guru dan penyelia di sekolah dewasa selama 2 tahun.

Pada 1 Januari 1964 beliau meletakkan jawatan dan berkhidmat di Ma’had Muhammadi, Jalan Merbau, Kota Bharu.

Bidang Politik :

Beliau menjadi ahli PAS sejak 1967. Pada Julai 1967 hingga 1986 beliau menjadi calon PAS dalam pilihan raya kecil Parlimen Kelantan Hilir (sekarang Pengkalan Chepa). Pada tahun 1986 beliau berpindah untuk bertanding di kerusi kawasan Parlimen Bachok dan Ahli Dewan Undangan Negeri (DUN) Semut Api hingga sekarang.

Pada 1971 beliau dilantik menjadi Ketua Dewan Ulama’ PAS Pusat hingga 1995. Kemudian dilantik Mursyidul Am PAS mengambil alih tempat yang ditinggalkan oleh Tuan Haji Yusuf Rawa.

Pada 1978 Tuan Guru dilantik sebagai Pesuruhjaya PAS Kelantan kemudian Menteri Besar Kelantan pada Oktober 1990. Dari sinilah bermulanya satu era kepimpinan ulama dan peranan serta tanggungjawab beliau bukan satu tugas yang kecil.

Beliau telah menulis beberapa buah buku antaranya ‘Mengapa Saya Tidak Masuk Kristian’ dan beberapa buah buku telah diterbitkan mengandungi siri-siri kuliah dan ceramah.

Pendakwah :

Dengan pengalaman yang ada, beliau telah membimbing pelajar Ma’had Muhammadi dengan menanam kesedaran dan akhirnya timbul satu ‘Halaqat pengajian yang sekarang disebut usrah. Selepas itu wujud sebuah surau yang masih ada di Ma’had Muhammadi Al-Banat, Jalan Merbau, Kota Bharu di mana surau itu dijadikan tempat latihan sembahyang jemaah dan dakwah.

Seorang Petah Bercakap

Tuan Guru lebih dikenali sebagai ulama kerana petah berpidato. Beliau telah diasuh oleh bapanya setiap hari Jumaat di masjid sejak dahulu lagi.

Ucapan beliau terang berserta dengan perumpamaan yang jelas dan memudahkan para pendengar memahaminya. Inilah cara beliau mendapat tempat di hati penyokongnya. Ilmu yang disampaikan merupakan khazanah dan kesetnya tersiar di seluruh negara hingga ke Selatan Thailand dan mendapat sambutan dari setiap peringkat sehingga menjadi bahan rujukan di pusat pengajian tinggi.

Keistemewaan :

Satu perkara yang luar biasa Nik Abdul Aziz, mengendalikan pondok bergerak sejak 1962 hingga sekarang. Beliau tidak pernah berhenti keluar rumah siang dan malam memberi kuliah dan berceramah kepada orang kampung.

Walaupun beliau telah menjadi Menteri Besar, bidang pendidikan tidak pernah ditinggalkan. Setiap malam Jumaat dan Khamis beliau mengajar dan setiap pagi Jumaat mengadakan kuliah kerana bagi beliau mengajar adalah kerja yang paling mulia sebab ia merupakan pekerjaan para Anbia’.

Penghargaan :

Beliau mendapat penghargaan:
1. Jaksa Pendamai (JP) pada 10 Julai 1968 oleh Duli Yang Maha Mulia Sultan Yahya Putra Ibnu Almarhum Sultan Ibrahim.
2. Kesatria Mangku Negara (KMN) oleh Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong.
3. Dikurniakan Darjah Kebesaran Jiwa Mahkota Kelantan Yang Amat Mulia peringkat pertama (Al-Isma’illi) SJMK yang membawa gelaran Dato’ pada 30 Mac 1995.

Perkahwinan :

Pada usia 34, beliau mendirikan rumah tangga dengan Datin Tuan Sabariah bin Tuan Ishak bin Raja Awang, berasal dari Kampung Kemumin, Kota Bharu iaitu tahun 1962. Hasil perkahwinan selama 30 tahun itu dikurniakan 10 cahaya mata lima perempuan dan lima lelaki.

Mereka adalah Nik Aini, Nik Umar, Nik Adli, Nik Abdul Rahim, Nik Abduh, Nik Adilah, Nik Muhamad Asri, Nik Amani, Nik Amalina dan Nik Asma’ Salsabila.

Kehidupan beliau sederhana tinggal di sebuah rumah kayu binaan kampung. Ruang tamunya tidak dihiasi dengan set sebagaimana yang menjadi kebiasaan di rumah pembesar negeri. Apa yang ada sebuah almari yang penuh dengan kitab agama.

Beliau juga tidak membenarkan isterinya memakai sebarang perhiasan begitu juga dengan anaknya. Ternyata apa yang ditarbiyahkan ke atas keluarga dilakukan sendiri oleh beliau. Baju Melayu teluk belanga, kain sarung pelikat dan serban sudah menjadi pakaian rasmi beliau.

Ahli Parlimen yang komited :

Sebelum terpilih menjadi ADUN Semut Api dalam pilihanraya umum 1986 dan kemudiannya terpilih menjadi Ketua Pembangkang di Dewan Undangan Negeri Kelantan, Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz telah terpilih menjadi Ahli Parlimen PAS bagi kawasan Pengkalan Chepa selama tiga penggal berturut-turut.

Selama menjadi Ahli Parlimen, beliau telah menyumbangkan pelbagai idea, saranan dan kritikan melalui ucapan-ucapan yang disampaikannya di Dewan Rakyat.

Kerajaan contoh :

Selaku Menteri Besar negeri Kelantan yang ada pada suatu masa dahulu pernah digelar Serambi Mekah itu, sudah pastilah Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz akan berusaha untuk menghidupkan semula sebutan dan fungsi gelaran yang pernah diberikan kepada negeri Kelantan itu.

Satu hal yang menarik ialah di samping kesibukannya menjadi ketua pentadbiran bagi sebuah kerajaan negeri yang secara kebetulan menjadi tumpuan pelbagai pihak dalam dan luar negeri, Tuan Guru Haji Abdul Aziz masih mampu meneruskan ceramah mingguannya pada setiap pagi Jumaat bertempat di Dewan Zulkifli Muhammad Bangunan PAS yang terletak ditengah-tengah pusat bandar Kota Bharu, ibu negeri Serambi Mekah itu.

Di sinilah di Dewan Zulkifli Muhammad inilah, ribuan umat Islam akan berkumpul beramai-ramai pada setiap pagi Jumaat untuk mengikuti ceramah mingguan YAB Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat, Menteri Besar Kelantan yang dikasihi dan dihormati itu.
[12/02 11:28 PM] Siti Zunaida Mustapha: Beliau sudah syahid di jalan Allah di saksikan mlm penghulu hari, beliau sudah melihat ganjaran yang bakal beliau terima, namun bagaimana pula kita ini yg tidak tahu penghujung hayat kita mcm mn dan xtau sama ada ganjaran yg menunggu atau balasan yang menanti...semoga ini menjadi muhasabah diri dan renungan pd semua...
AturanNya..disusun indah..tugas tok guru slesai sudah..tinggalkn kita teruskan wadah...perjuangan ini penuh mehnah..aturlah langkah usah tersalah..moga pghujung kita husnul khatimah..

Friday, September 5, 2014

BAHASA: Kata Sendi Nama

Perkongsian ilmu dari page Facebook Dewan Bahasa dan Pustaka.








Cegah Kemungkaran

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

CUIT-CUIT UST KAY (CCUK) Khamis, 9 Zulkaedah 1435H. AMNM ?

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa di antara kamu yang melihat sesuatu kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya (kekuasaan), jikalau tidak berkuasa hendaklah dicegah dengan lisannya, jikalau tidak berkuasa juga, hendaklah dicegah dengan hatinya (membenci kemungkaran itu), dan ini adalah selemah-lemah iman." (HR : Muslim)

PENCERAHAN :
Amar Makruf Nahi Mungkar (AMNM) mesti dijalankan dalam semua peringkat masyarakat. Bermula dari diri, keluarga, masyarakat, negara hinggalah ke alam sejagat. Bukan terletak kepada penguasa, pegawai pencegah maksiat, pendakwah, ustaz-ustazah, imam atau AJK masjid dan surau sahaja. Atau 'Admin' sahaja...

Janganlah kita hanya menuding jari kepada pihak penguasa dan bertanya, mengapa tidak dilaksanakan AMNM? Sedangkan di dalam keluarga kita sendiri masih ada yang tidak sembahyang, masih ada yang derhaka kepada Allah dan Rasul, derhaka kepada ibu bapa, cuai mendidik anak isteri. Isteri tidak taat suami. Anak-anak degil dan melawan ibu bapa. Ini semua adalah perkara mungkar yang perlu dicegah sebelum parah.

Di Akhirat nanti, apabila Allah tanya kita, mengapa dibiarkan anak tidak tahu sembahyang, adakah kita akan menjawab, kerana pemerintah tidak jalankan AMNM? Sedangkan dosa itu adalah dosa kita, maka kitalah yang akan menanggungnya...

Kata Sayidina Ali r.a : "Tidaklah turun bala kecuali dengan dosa dan tidak diangkat melainkan dengan taubat." Antara bala yang diturunkan Allah jika tugas amar makruf nahi mungkar ini diabaikan ialah:
1. Zikir tidak diterima Allah walau sebanyak mana sekalipun.
2. Taubat tidak diterima oleh Allah SWT
3. Doa tidak makbul, terhijab.
4. Iman terancam. Maksiat akan bermaharajalela dan gejala sosial meningkat. Ini akan mengganggu orang yang hendak beribadah.
5. Allah datangkan pemimpin yang zalim.
6. Di akhirat nanti orang ramai akan tergantung kepada orang yang mengabaikan tanggung jawab melaksanakan AMNM ini sedangkan dia mampu (ada ilmu, kekuasaan dan keupayaan fizikal).

Dr Afif Abdullah Fattah Thabbarah dalam bukunya, 'Dosa Dalam Pandangan Islam' menyatakan: “Mendiamkan perbuatan mungkar bererti ikut berdosa, dan dosanya akan dipikul oleh semua anggota masyarakat, kerana berdiam diri bererti merestui perbuatan itu.”

Mengikut Imam Ghazali, apabila masyarakat sunyi daripada AMNM akan terkeluar daripada kelompok orang mukmin. Mengulas ayat 71, surah at-Taubah, beliau berkata: “Apakah anda belum memahami ayat ini? Ayat itu mengatakan bahawa siapa saja yang tidak mahu menjalankan AMNM, bererti ia telah keluar daripada golongan orang beriman. Oleh kerana perbuatan AMNM adalah ciri khas dan sifat umat Islam.”

CARA AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR YANG DILAKUKAN OLEH RASULULLAH SAW :
1. Memilih masa dan tempat yang sesuai untuk memberi nasihat
2. Berdakwah secara diplomasi
3. Meninggalkan perkara yang tidak memudharatkan untuk kemaslahatan yang lebih besar
4. Memberi hadiah kepada mereka yang baru berjinak-jinak dengan agama Islam.
5. Melembutkan hati dengan kata-kata, perbuatan dan muamalah
6. Memberi kemaafan dalam keadaan yang mungkin boleh menuntut bela / balas dendam
7. Menceritakan sesuatu berdasarkan kisah umat terdahulu sebagai iktibar

DAPATKAN CCUK VERSI BUKU DAN RAKAMAN LIVE DVD TIDAK LAMA LAGI...

KESIMPULAN :
Amar Makruf iaitu ajakan kepada kebaikan rasanya agak mudah dan ramai yang mampu melakukannya. Tetapi Nahi Mungkar atau mencegah kemungkaran yang nampak di hadapan mata adalah sangat mudah dilafaz tetapi sangat sukar untuk dilaksanakan. Percayalah...!! Wallahu a'lam - Yang baik digalak, yang buruk dielak ! Ukay's